Fak-Fak, Papua Barat, Cakrabhayangkara News - Idul Adha merupakan sejarah Masalalu yang menjadi pelajaran berharga bagikita Jelas Ketua tokoh Agama Muslim Kabupaten Fakfak, Mustafirin saat ditemui Wartawan dirumanya Selasa sore (5/9) Pukul 04.00 Wit
.
Dalam peristiwa Idul adha kita mengenag nilai-nilai perjuangan yang dimiliki oleh Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah Walau harus mengorbankan putra nya yang bernama Ismail. Apa yang dialami merupakan wilayah iman artinya Allah menguji keimanan putranya Ismail, apa yang dialami Ibrahim tersebut merupakan wilayah iman artinya Allah menguji tingkat keimanan Ibrahim apakah Ibrahim lebih mementingkan perintah Allah atau lebih mencintai kehidupan dunia.
Kehadiran Ismail bagi ibrahim merupakan harta yang berharga karena yang diperoleh ibrahim dari doa demi doa yang dipanjatkan dan bertahun-tahun lamanya baru Allah memberikan rezeki berupa seorang anak kepada Ibrahim.
Namun ketika Ismail memasuki usia kanak-kanak sudah pintar bicara dan diajak kerja sama, lalu Allah memerintahkan Ibrahim lewat mimpi untuk mengorbankan putranya Ismail sebagai korban, apakah dengan perintah itu Ibrahim akan melaksanakan atau Ibrahim tidak mau melaksanakannya karena Ibrahim sangat cinta kepada Ismail tetapi yang terjadi Ibrahim siap melaksanakan perintah Allah meskipun harus menghabisi nyawa anaknya sebagai korban.
Hal inilah merupakan pelajaran yang penting bagi kita untuk lebih cinta kepada perintah Allah dari pada mencintai kehidupan dunia. dalam kaitan jiwa pengorbanan maka kita harus siap memberikan sumbangsih, pemikiran, tenaga, harta untuk ikut mencarikan solusi yang terbaik terhadap penderitaan kaum muslimin rohignya .
Sumbangsih apa yang bisa kita berikan adalah memberikan kesadaran tentang kemanusian bahwa menghabisi nyawa satu orang berarti menghabisi nyawa manusia secara keseluruhan itulah pesan Nabi Muhhamad..Kalau kita renungkan sejenak peristiwa yang terjadi dirohignya adalah moralitas bangsa.
oleh karena itu, Mustafirin mencontoi syair seorang penyair yang mengatakan bahwa apabila suatu bangsa moralnya bagus maka negaranya akan bagus pula, tetapi jika morallitas bangsa itu rusak maka negara itu akan mengalami kerusakan dengan menghancurkan nilai-nilai hak asasi manusia. (Amatus Rahakbauw)
Post a Comment