Headlines News :
Home » » MASYARKAT PRIBUMI DI KOTA MEDAN MENCARI SESUAP NASI DENGAN PROFESI MENJADI PSK

MASYARKAT PRIBUMI DI KOTA MEDAN MENCARI SESUAP NASI DENGAN PROFESI MENJADI PSK

Thursday, August 31, 2017

Advetorial

Medan, Sumut, CakrabhayangkaraNews- Biasanya dengan bangganya, putra maupun putri Provinsi Sumatera Utara (Sumut), jika berada di perantauan, menyebut dirinya " Saya Anak Medan" sebab dulu rata-rata dulunya perantau-perantau dari Sumut itu, lebih mengutamakan Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga bisa aktif dan mandiri.

Ternyata, jika di dalami, sebenarnya kehidpan sebagian masyarakat di Kota Medan, penuh dengan fenomena sosial, termasuk kendala ekonomi, maraknya portitusi serta kejahatan-kejahatan lainnya.
Ironi, memang dengan beragam corak kehidupan masyarakat Kota Medan yang sudah masuk julukan  metropolis, ternyata banyak masyarakat ekonominya, memilukan dan menyedihkan, bahkan sudah tak tabu lagi, bagi mereka yang menjadi Pekerja Seks Komersil (PSK) dengan berjejer di pinggir jalan.

Di salah satu tempat, Kecamatan Sunggal, ditemui seorang Ibu hamil Lima bulan, kemudian membawa anaknya, sekitar umur dua tahun, dia mendatangi tempat-tempat hiburan dan hotel, berharap ada pria hidung belang yang mau menidurinya, sehingga dirinya bisa mendapatkan sesuap nasi untuk dirinya dan anak-anaknya.

Kemudian di daerah, Setia Budi, terlihat para PSK berjejer di pinggir jalan, mulai dari umur, 18 tahun sampai umur 50 tahun, ada yang menawarkan untuk ngamar, ada yang menawarkan untuk sort time, untuk pijit plus-plus dan lainnya.

Ketika didekati perempuan-perempuan  yang kurang beruntung tersebut, mungkin  mereka ini hanya sebagian kecil dari masyarkat Kota Medan, mereka semua beralasan untuk mencari sesuap nasi agar kebutuhan rumah tangganya terpenuhi dan anak-anak bisa sekolah.

Di saat berbincang-bincang dengan PSK tersebut, tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju dengan cepat tiba-tiba berhenti, lantas pemilik penginapan terlihat memberikan uang tukaran Rp 50 ribu, setelah mengantongi uang tersebut, dia pun dengan cepat hilang dari pandangan mata.
Saat ditanya kepada petugas penginapan itu, siapa orang tersebut, dia menjawab dia itu aparat, semuanya  dikutif di sini, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Kalau tidak setor nanti tempat ini dirazia mereka.

Setelah itu, dilanjutkan perbincangan dengan PSK tersebut, kemudian kalau di Kota Medan itu, jumlah PSK itu berapa banyak, cewek yang mengaku nama Rina (35), ribuan orang.

" Ribuan oranglah bang, sekarang sulit hidup di Kota Medan dapat makan aja susah,  tak penting halal haram yang haram itu tidak dapat," sebutnya diiringi dengan sunggingan senyum.

"Jadi  PSK sulit cari uang, saingan banyak bang, sekarang ribuan PSK, dapat Rp 150 ribu  udah syukur loh bang, pokok dapat makanlah, daripada mati kelaparan bisa bang," tuturnya.

Lantas, jika demikian, fenomenanya, sudahkah pemerintah mencari jalan keluarnya atau mungkin mereka sibuk dengan rutnitas mereka mengadapi kertas,  sambil menikmati kursi empuk dan ber AC, sehingga lupa dengan janji-janji mereka  terhadap rakyat, atau memang mental masyarakat itu sendiri perlu pembangunan yang baik.

Sekilas memang, jika melihat perkembangan Kota Medan dengan gedung-gedung menjulang ke angkasa, sepintas bisa dikatakan Kota Medan sudah maju dan berkembang. Tapi jika ditanya siapa pemiliknya, rata-rata  mereka bukan orang Kota Medan, bahkan bukan asli orang Indonesia.
Lantas, kalau seperti itu faktanya, tentu sangat memalukan dan menyedihkan  sekali, jika orang luar menguasai tanah-tanah di Kota Medan, sementara warga asli  sendiri saja harus menjadi PSK untuk sesuap nasi dan membayar kontarakan rumah.

Diharapkan Pemerintah, baik itu Pemko Medan, Pemprovsu dan pemangku kepentingan lainnya di bangsa ini, dapat memberikan win-win solution, sehingga kemiskinan itu bisa dientaskan.
Tentu fenomena ini menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat agar penderitaan rakyat, kemudian tidak masyarakat pribumi menjadi PSK untuk mencari sesuap nasi. (Redaksi)

Sumber :  Penulis: E Rambe (Raja Paluta) Putra Asli Sipiongot

Gambar Ilustrasi By Redaksi CBN
Share this post :

Post a Comment